Selasa, 03 Maret 2009

tidak makan nasi tidak kenyang?

Beberapa waktu yang lalu, ramai dibicarakan adalah krisis pangan yang menimpa indonesia (termasuk dunia)..apalagi krisis energi yang juga menimpa dunia internasional, ikut memperparah buruknya kondisi pangan ini..mungkin skrang permasalah pangan ini kurang menajdi tema yang seksi lagi, mengingat ada tema lain yang lebih menarik (baca:krisis keuangan)..namun, benarkah sektor pangan ini sudah bisa kita anggap aman?

dengan tidak adanya sesuatu yang memanas dari sektor ekonomi pertanian, memang bukan berarti bahwa sektor ini telah aman..perlu dicatat, bahwa rigidnya harga pangan dunia terhadap harga minyak bisa dianggap bahwa sektor ini sangat rawan (mengapa bisa rawan, karena harga minyak sendiri sangat fluktuatif, rentan terhadap pengaruh keuangan global yang saat ini notabene sedang memburuk)..

satu sebab ini saja bisa kita anggap bahwa sektor pangan masih belum sepenuhnya aman

sebab kedua yang perlu diperhatikan (dan menjadi pokok pikiran penulis dalam tulisan ini) adalah mengenai diversifikasi pangan..

sebelum membahas mengenai diversifikasi pangan, mari kita tinjau dulu sektor pertanian Indonesia

sudah menjadi rahasia umum, bahwa pertanian kita dewasa ini cenderung dianaktirikan..betapa tidak, ketika pertanian kita mencapai puncaknya di era 80an (swasembada beras), perlahan tapi pasti basic kita sebagai negara agraris kita tinggalkan, dan mencoba menjadi negara industri pendukung agraris..kenyataannya, kita gagal menjadi industri, apalagi industri pendukung agraris..produk2 pertanian kita pun sering kalah bersaing di pasar global..tidak hanya itu, untuk menutup jumlah konsumsi dalam negeri saja tidak cukup..kita lebih banyak impor..

dan, produk yang penulis uraikan di sini (agak terfokus pada) beras (sekaligus mengaitkannya dengan diversifikasi)

selama ini telah menjadi dogma bagi bangsa indonesia, bahwa 'tidak makan nasi tidak kenyang'

sehingga, konsumsi beras sangat tinggi..padahal produksi dalam negeri sendiri cenderung rendah, kurang bisa menutup konsumsi dalam negeri..sehingga, kebijakan impor diambil..(tak heran harga beras cenderung mahal, karena supply dlam negeri yang kurang, serta adanya impor)..tingginya impor inilah yang mempengaruhi ketahanan pangan kita..

meninjau demand dan supply dari beras..tidak adanya supply dalam negeri yang meningkat (termasuk minimnya insentif dari pemerintah untuk meningkatkan produksi beras) serta teteap tingginya demand masyarakat, menjadikan beras ini mahal.. maka, tak heran ketika krisis pangan kemarin, harga beras melambung gila2an, dan ketahann pangan kita terancam..asumsikan pemerintah tak kunjung memberikan perhatian ke sektor pertanian, maka apa yang bisa kita lakukan?

satu2nya cara adalah merubah demand..dengan kata lain:diversifikasi pangan..

tak mudah merubah dogma 'tak makan nasi tak kenyang'..namun justru di sinilah kuncinya..

MenurutKepala Sub. Bagian Humas Badan Ketahanan Pangan - Departemen Pertanian, Ir Iping Zainal Arifin, ketersediaan energi kita berlebih, yaitu 2966 kkal/kap/hari, sedangkan konsumsinya 2200 kkal/kap/hari. Demikian juga dengan ketersediaan protein 75,71 gr/kap/hari sementara konsumsinya 56,6 gr/kap/hari.. dan apa yang menyebabkan terjadinya krisis pangan?

jawabannya satu: pangan disimbolkan dengan beras.." Kebijakan pangan yang terfokus pada beras, di satu sisi, mengakibatkan produksi beras meningkat, di sisi lain masyarakat tertentu yang tadinya tidak memakan beras terdorong mengkonsumsi beras karena mudah mendapatkannya, sehingga mendorong masyarakat yang pada awalnya secara tradisional tidak mengkonsumsi beras menjadi mengkonsumsi beras,"Prof. Dr. Ir. Benyamin Lakitan, M.Sc, - Pakar Pangan Ristek, Sesmen Ristek (dikutip dari situs ristek

maka, semakin jelas bahwa memang terlalu 'dominannya' beras ini memberikan tekanan terhadap perekonomian dan ketahanan pangan kita..

maka, sekali lagi:diversifikasi ato penganekaragaman pangan..

hanya saja, penganekaragaman yang terjadi selama ini justru memberi efek lain, karena adanya salah kaprah..tidak adaya beras (atau nasi) diganti dengan: mie, dan roti..akibatnya:memberi tekanan baru terhadap ekonomi, karena kita menjadi begitu banyak mengkonsumsi terigu (pada 2007 menyentuh angka 4,5 juta ton), yang mengakibatkan kita harus impor (yang berarti ketergantungan kita tinggi: ketahanan pangan rawan)

inilah yang patut dicermati..ambiguitas beras..satu sisi:beras terlihat begitu 'eksklusif' (bagi rakyat daerah)..ditambah anggapan 'tidak makan nasi tidak kenyang', mengakibatkan konsumsi mereka begitu tinggi..akibatnya kosnumsi sagu, jagung, umbi2an (yang bisa dikelola sebagai sumber karbohidrat dan protein lain, yang notabene juga bisa digarap demi menjaga ketahanan pangan) terabaikan..sementara beras sendiri juga terlihat begitu murah, dan tidak elite (khususnya bagi kaum kaya) yang mengakibatkan tingginya konsumsi terigu(ditambah tetap tingginya konsumsi beras)..sebuah fakta yang ironik bukan?

mengapa sumber daya sendiri(macam sagu, umbi2an, dll) tidak dikonsumsi(padahl relatif lebih ekonomis dari sisi produksi), padahal tenaga ada? sebuah pr besar jika ingin menjaga ketahanan pangan..tidak lagi berkaitan dengan teknis, tapi nonteknis (yaitu faktor budaya, dan faktor 'gengsi')..

nb: sebuah notes kecil..butuh banyak masukan..tidak bermksud tau banyak, hanya sedikit gagasan

to my beloved one

ibarat kata, kamu tuh stengah jiwaku..
aku ga bisa idup tanpa kamu..ketika kamu ga ada
rasanya ancur banget idupku..

aku pengen banget mertahanin kamu..
tau ga, aku dah jatuh cinta ama kamu dari pandangan pertama..
uda sayang banget..
sampe sekarang pun ga brubah..

walopun waktu pertama ktemu kamu dah tua,
terlihat lusuh dan bekas,
bagiku kamu sempurna, indah, dan cantik..

aku cinta kamu
sampe skarang

aku memang salah
aku cinta kamu tapi kurang bisa membuktikan cintaku itu
aku sering lupa ma kamu
dan menelantarkan kamu

tapi ketahuilah
aku sangat butuh kamu,
dan ga bisa apa2 tanpa kamu
ketika kamu ga ada
separuh jiwaku ilang
dan hidupku serasa kehilangan makna
aku kehilangan esensi

biarpun kamu sakit2an
dan sering meninggalkan aku(walopun sebagian salahku)
biarpun orang ngejek kamu dan aku
bagiku kamu tetep yang terbaik
yang aku cinta

orang suruh aku pilih yang lain
tapi tidak
citnaku adalah kamu dan kamu adalah cintaku
aku ga akan tinggalkan kamu
kamu sangat berarti bagiku
aku sangat butuh kamu
bersamamu banyak kenangan dan hal penting teresimpan
yang menjadikanku begitu cinta kamu

aku pernah bertekad
aku ingin kamu dismapingku sampe aku lulus
jika memungkinkan hingga aku bener2 berhasil
aku ingin kamu jadi saksi hidupku
aku ingin itu kamu
sampe sekarang aku tetep begitu
karena bagiku engkau adalah cinta sejatiku

maka dari itu,
untuk kesekian kali dan selamanya,
aku ingin berteriak



TOLONG CEPET SEMBUH DONK LAPTOPKU!!!
JANGAN GAMPANG RUSAK DONK!!
AKU BENER2 BUTUH KAMU!!

(sriusan deh, kalo ga ada laptop: ga bisa garap tugas, dengerin lagu, nonton pilem, refresing, ato coret2 bikin tulisan..sumpah jadi gabut abis..tiap hari nyampah, garing banget..ga tau knapa, padahal uda dirawat dan diperbaiki brulang kali, tapi tetep aja rusak..like owner like laptop, huh??anyway, kalo ada yang bisa bantu benerin laptop, pliss banget..amat sangat dibutuhkan!!!)

Senin, 10 November 2008

is this the end of laissez-faire? sedikit uneg2 gw..^^

banyak anggapan yang menyerang bahwa sekarang (dalam hal ini krisis finansial global) adalah bukti bahwa sistem ekonomi pasar telah hancur (dan yang membuat nasib manusia menderita)..sudah saatnya sistem ekonomi kerakyatan (asumsi:kita melihat perekonomian indonesia) yang diterapkan..dan banyak tokoh politik, mulai menggunakan isu ini sebagai kampanye, di antaranya Sutiyoso \..dan kaum ekonom strukturalis, di antaranya sri edi mulai menggunakan momentum ini untuk kembali menyuarakan restrukturisasi ekonomi..

pertanyaannya adalah: benarkah sistem ekonomi pasar sudah hancur?

jika mengacu pada washington post, maka sebenarnya ekonomi pasar belum dan tidak akan pernah hancur..

menurut hemat penulis, memang anggapan itu tidak salah..apalagi argumen yang diajukan juga logis (dimana bahwa krisis ekonomi sekarang diakibatkan ulah pelaku ekonomi - dalam hal ini the fed dan bush - bukan siistemnya..apalagi greediness adalah sifat dasar manusia, sehingga tidak akan bias menghilangkan sistem ekonomi pasar yg kapitalistis itu..dan tidak bsia dibantah, hal dasar dalam sistem pasar dimana menganjurkan saling berlomba, membuat masing-masing negara dalam situasi makro dan perusahaan dalam mikro, bersaing secara sehat, memajukan perekonomian dari masing-masing itu..adanya insentif itulah yang membuat tiap-tiap institusi dan individu mempunyai hasrat maju..jika sistem komunistis diterapkan, tentu tidak bisa dicapai hasil optimum..dan sumbangsih ekonomi pasar sangat besar..bukti riil adalah amerika serikat, yang menjadi sangat maju..bahkan cina maju setelah lebih membuka diri)

cuman, pertanyaannya, adalah etika ekonomi karena greediness itu..saling sikut, semua cara dihalalkan..bahkan, jika menurut sri edi, bisa dibawa ke arah pembangunan yang dehumanistis..

anggapn sri edi dan kaum strukturalis, bahwa memang perlu ada restrukturisasi sudah tepat..hanya saja, perlu ada bukti yang lebih konkret dan riil, jangan hanya anggapan 'andai' atau 'awang-awang' belaka..

karena kenyataannya yang ada hanya sebuah anggapan yang idealistis..sebagai contoh: "pembangunan yang dehumanistis dikarenakan pemerintahnya..pemerintah perlu lebih pro rakyat"(ini adalah inti yang ditangkap penulis)..

jika kita bicara pemerintah, kenapa harus dikaitkan dengan sistem ekonomi pasar yg kapitalis?memang, pemeritnah yang menentukan sistem ekonominya..mereka yang mengatur perekonomian..tapi, tentu yang dirombak di sini bukan sistem ekonominya, toh jelas yang salah adalah pemerintahnya..(kalo ada yg salah tolong ditanggapi)

mungkin anggapan amartya sen dan stiglitz bisa digunakan sebagai alasan..namun, perlu diingat, apa yg dilihat itu adalah kesalahan dari pemerintah..(yang terlalu serakah)..jadi, sekali lagi, semua masalah yang ada bukan pada sistem ekonomi pasar..sistem ekonomi pasar memang telah menjelaskan semua kejadian dengan baik..semuanya hanya berujung pada pemerintahannya..

koreksi yang dilakukan dengan mengurangi profit atau keserakahan demi membantu yang lemah, sebenarnya sudah baik..namun menurut hemat penulis, jelas mengacu pada aplikasi dari sistem ekonomi pasar ini di dunia nyata..bukan pada idealisme awal dari sistem ekonomi pasar ini..

jika mau diterjemahkan, 'keseimbangan pasar ditentukan oleh invisible hand' sudah cukup menjelaskan kok, kalo sistem pasar ini cukup toleran..kalo pelaku pasar ga ngejar profit, mereka mau ngasi ke marjinal, ya kurangi aja demandnya..supply bakalan turun kan..

yang salah ya penafsiran itu..normalnya, kan emang makin tinggi profit makin bagus kan..makanya dibikin ppf itu..ppf adalah wujud penafsiran dari sistem pasar..karena ppf ini, seolah2 timbul anggapan, greed or maximization profit is good.. so, market economy identical with greediness..padahal ga..kan, "lebih baik kalo maksimisasi profit" karena emang, itu adalah sifat alam..ga bisa dibantah..jadi, mengkritik maksimisasi profit ini absurd..itu alamiah..

(waduh.kbanyakan nulis..sori ga keatur)..pokoknya, intinya tuh emang sistem pasar ga salah..yang salah adalah penafsiran dari banyak pihak (baik teori maupun praktek..baik oleh yang pro maupun kontra)..wong, idealisme awalnya itu ya 'keseimbangan pasar ditentukan oleh invisible hand'..kalo pelakunya emang mau ngurangi demand demi ngasi profit, ya ga masalah to..

jadi, emang sebenernya adam smith itu juga punya idealisme ngasi ke sesama kok..(di karya adam smith yang laen, yg gw lupa, adam smith juga nyinggung soal kebersamaan ini..dan lagi, bukti nyata thorstein veblen, seorang ekonom strukturalis, gagasannya ga pernah diwujdukan di dunia nyata..begitu pula bung hatta..karena emang serakah adalah sifat dasar manusia..)

(maap kpanjangan..lebih teknis lagi liat di sini)

Sabtu, 08 November 2008

Indonesia lebih pandai berpolitik dari Amerika Serikat?

berdasarkan teori roll off yang dijelaskan oleh greg mankiw, maka sebenarnya orang-orang yang golput adalah orang-orang yang cenderung tidak berpendidikan, ato kurang mengetahui visi-misi, kebijakan unggulan dari para kandidat..justru yang memilih adalah orang-orang yang berpendidikan lebih tinggi..

tapi, jika kita lihat di indonesia, justru kenyataannya orang-orang yang berpendidikan lebih tinggi justru lebih memilih golput daripada orang yang berpendidikan lebih rendah (maap, ga ada data di sini..tapi kita bisa ambil contoh kasar, bahwa tukang becak lebih besar kemungkinan memilih daripada aktivis mahasiswa bukan?)..

apa di sini artinya, orang yang berpendidikan rendah di Indonesia 'lebih pintar berdemokrasi' daripada orang yang berpendidikan rendah di Amerika, sehingga memutuskan menggunakan hak pilihnya? atau orang yang berpendidikan tinggi di Indonesia 'lebih kritis', hingga tidak mau menggunakan hak pilihnya, karena tidak merasa terwakili oleh calon yang ada??

apapun itu, yang jelas mungkin politik serangan fajar, janji populer seperti sekolah gratis dan kampanye dangdut di negara kita lebih ampuh dalam merangkul pemilih, daripada pandangan calon mengenai perekonomian nasional..entah karena kita lebih pandai berpolitik, sehingga bisa merumuskan 'strategi yang tepat' atau, karena begitu banyaknya warga indonesia yang 'kurang paham' mengenai dunia politik, sehingga gampang ditipu..

jika yang kedua, maka tanggung jawab kita bersama untuk lebih mencerdaskan bangsa mengenai pemilu (yang berarti dua: justru semakin selektif dalam melakukan pencoblosan - seperti di amerika - atau malah golput seperti di Indonesia)

Senin, 03 November 2008

Benarkah BEM FEUI adalah EO?

ada sebuah diskusi yang menarik di kampus penulis, di FEUI, bahwa ada anggapan bahwa BEM FEUI terlalu bersifat event organizer..
langsung ke pokok permasalahan..benarkah demikian?

satu sisi, selaku hemat penulis, BEM FEUI tidak bisa dikatakan begitu saja sebagai EO..misal ada acara aksi yang dilakukan Kastrat, dan serangkaian acara sosial yang dilakukan oleh Pengmas..
dan jika kita bicara JGTC, maker, itu jelas emang EO..banyak acara apresbud yang EO, kecuali BEM Arts Day tentunya..Dan acara OR, emang banyak juga yang EO (ambillah contoh FEUI Cup, jika mau memaksa dikit) tapi tentu saja, definisi EO disini sangat menarik: apakah kita mau bersiap2 merugi? secara logis saja, tentu ga mau kita rugi dalam melakukan sesuatu

Sehingga pembelaan bahwa masing2 dept ada fungsi tertentu (seperti Kastrat dan Pengmas sebagai fungsi sosial BEM) memang bisa dijadikan dasar bahwa BEM FEUI tidak EO..

hanya saja, sebuah pendapat menarik dilontarkan kawan saya, JN, dalam sebuah diskusi kecil, "nyata-nyata panitia acara sosial itu sendiri kadang ga dapet esensi sosialnya..mereka justru terbebani bahwa acara tersebut harus ga rugi (dengan kata lain profit-penulis)"
ditambahi rekan penulis yang lain, Rm: "orang kadang profit acara sosial itu dishare ke BEM kok..harusnya kan profit dari acara sosial ini sepenuhnya emang untuk perlu sosial..kan ada biro dana bwt ngasi duit ke BEM"

nice opinion, bukan?

kalo dipikir secara logis, memang BEM FEUI itu EO atau tidak kita bicara sebuah batas wilayah..

menurut hemat penulis, kita nilai BEM itu EO atau ga dari rangkaian acaranya..jika memang acaranya hanya mengejar profit dan g punya meaning jelas, itu baru EO..di sini rangkaian acara dept pengmas, pendidikan, kastrat lolos..tapi tes tahap 2 muncul..jika ia memang tidak EO, harusnya meaning itu dirasakan oleh seluruh stakeholders FEUI, dan juga panitia di dalamnya..

nyata-nyata apa..seluruh panitia dibebani pikiran untuk dapet profit..dan yang kedua, kenapa di (ambil contoh) november banyak sekali acara seminar yang diadakan BEM FEUI..apakah shareholders itu bakal menghadiri semua event tersebut yang notabene setiap dateng ke satu acara saja membutuhkan duit tak kurang dari Rp 30000,00..artinya ga semua shareholders atau masyarakat luar yang mendapatkan benefit dari sbuah acara..

(ambillah contoh acara pameran kebudayaan..pameran kebudayaan:berapa banyak orang yang datang ke sini?atau lebih tepatnya, berapa banyak panitia dan peserta akhirnya benar benar mencintai budayanya)

maka wajarlah jika kita menganggap BEM memang EO..

tapi tentu saja kita tidak bisa menolak begitu saja..karena jelas sudah menjadi paradigma bahwa memang anak ekonomi mengejar profit..tak usahlah munafik kalo kita ga cari profit..bahkan fungsi departemen yang diharapkan sebagai social control pun masih bersifat cari profit..

jadi, alangkah baiknya jika kita tak usah mendebat BEM EO atau bukan, karena memang bukan salah anggota BEM-ers juga bahwa semua acaranya orientasi profit, profit orientation not always means EO(toh kadang, maaf, organisasi keagamaan sendiri juga mengadakan seminar yang tujuannya mencari profit juga kan)

yang perlu dikaji, adalah bagaimana supaya memang semua acara BEM (yang berorientasi profit itu) lebih menyentuh shareholders yang ada..dan benar2 sesuai idealisme awalnya..serta yang perlu diatur adalah penataan jadwal, supaya tidak ada suatu bulan yang terlalu hectic di bulan itu saja, dan bertabrakan dengan acara lain..

langkah2 konkret macam inilah yang perlu dikaji, bukan sekedar membahas konseptual semata

Selasa, 09 September 2008

'Segi Ekonomi' Dosen Ekonomi

Adalah sebuah kecenderungan di kampus saya, FEUI, untuk lebih condong memilih dosen-dosen favorit.. lebih diutamakan dosen2 yang murah nilai..

Tentu saja..dosen2 di atas termasuk pilihan anak2 yang notabene dapet dosen jelek pun mereka masih dapet A..artinya persaingan semakin ketat dan interval nilai bisa semakin kecil..

maka..analogi demand terhadap dosen2 ini sangatlah tinggi.. sementara supply hanya terbatas, hanya 40 orang.. wow..'harga' dari dosen-dosen ini sangat mahal ujungnya..

pertanyaannya adalah:
"apakah memang 'harga' dari dosen2 favorit ini setinggi itu?"

oke, jika kita tinjau dari kemurahan hati, memang kelihatannya sangat berharga..

tapi, ada banyak faktor lain..
mulai dari persaingan teman..jika hasilnya toh interval kelas tetap kecil, maka ujungnya sama saja..

lalu dari diri mahasiswa sendiri..andaikata memang udah males g ktulungan..apa iya, dosen yang murah nilai mau ngasih nilai yang sesuai??di sini tentu masih berlaku prinsip, your result based on your efforts..

lalu ada faktor lain, yaitu faktor asdos..yang ternyata sangat berpengaruh..

dan berdasarkan pengalaman penulis, baik pribadi maupun yang dialami teman2 penulis..

toh kadang ada beberapa dosen yang terdengar murah nilai, tapi ujung2nya hanya memberi nilai yang tidak sesuai ekspektasi..

Ya, ekspektasi kita memang kadang terlalu tinggi..adanya asymetric information (baca:informasi yang terkadang melebih2kan) lah yang membuat kita kadang cenderung menganggap tinggi dosen itu melebih nilai riilnya..di sini ternyata ada pasar persaingan yang tidak sempurna di antara dosen..yang ujungnya akan merugikan konsumen..ya akan merugikan mahasiswa itu sendiri..

toh, pada kenyataannya bangku kuliah tidak untuk mengejar nilai semata.tapi mencari ilmu..tapi kecenderungan banyak sekali, dosen yang terkenal murah nilai, tapi ternyata (maaf) tidak bisa memberikan ilmu yang lebih..

penulis sadar, bahwa penulis juga sering memburu dosen yang murah nilai..namun, terkadang penulis menyesali, kenapa budaya ini bisa mewabah begitu besar di lingkungan kampus..toh padahal seperti yang sudah penulis jelaskan, bahwa ternyata sering nilai riil dari dosen itu kalah rendah dari nilai nominalnya, dan kadang nilai nominal itu dilebih2kan..dan, adanya asymetric information itulah yang menunjukkan bahwa..

"sesungguhnya mahasiswa lah yang paling dirugikan oleh pasar yang tidak sempurna ini"

Rabu, 03 September 2008

Teknologi adalah Kepanjangan Kapitalisme?

fenomena baru telah terjadi..
ya, seiring perkembangan teknologi, situs2 seperti facebook, friendster, myspace telah menjadi ikon baru.. hampir semua orang mengenal situs2 ini..

situs di atas memang menjanjikan banyak hal.. mulai dari menjalin hubungan dengan teman lama maupun teman baru, lalu media komunikasi gagasan2 atau ide2, hingga mungkin jadi semacam sarana pelampiasan stress..

fenomena situs2 ini hampir sama dengan apa yang terjadi pada dekade 90 akhir, hingga 2000 awal..yaitu saat booming mirc.. atau mungkin untuk anak kecil adalah kebahagiaan waktu maen game konsol, ex: play station, xbox, dll..

sepintas perkembangan teknologi ini memang terlihat memberi dampak yang menguntungkan..yah, misalnya demi menjaga hubungan dengan teman, atau supaya tetep keep kontak ama temen.. atau biasanya sih, untuk kasarannya adalah biar terlihat gaul..

satu sisi, hal ini cukup menguntungkan.. satu: memang biaya yang dikeluarkan untuk internet, atau membeli game2 konsol itu terlihat mahal.. ya, harus diakui seperti pedang bermata dua..
tapi harga yang dibayar masih lebih mahal jika kita memilih gaya hidup bersenang2 ala anak muda lain yang cenderung hedonis..

(ok, terlihat seperti radikal, atau menggampangkan suatu masalah, yang tentunya masih banyak perdebatan mengenai hal ini.. lagipula sebuah fenomena di UI adalah "buku, pesta, dan cinta" walaupun yang pertama masih perlu dipertanyakan lagi..)


benefit yang kedua, tentu saja seperti yang diungkapkan di awal..menambah link..atau menjaga tali pertemanan dengan orang lain..yang ketiga, bisa menjadi sarana promosi bisnis..

terlihat menarik, karena banyak benefit di sana..

saya juga setuju2 aja..toh ini juga menambah lahan bisnis warnet buat orang2..

jika kita mau idealis, bisa aja kita bilang 'ngapain anak muda jaman skrang ngurus ginian'. tapi, toh g ada yang salah dengan ini..lagipula, ini sama aja semacam derivatif dari 'buku, pesta, dan cinta'.. ya, tampaknya seiring perkembangan teknologi, buku, pesta, cinta ini berkembang jadi banyak hal.. seperti biaya pulsa, biaya listrik/telpon/warnet.. toh banyak yang menghasilkan gagasan besar..

namun, yang ingin saya kritisi adalah:
1.Semakin canggihnya teknologi, mengakibatkan semakin berubahnya gaya hidup
teknologi dalam 10 tahun saja sudah berubah seperti ini..dan liat bagaimana gaya hidup sekarang..lalu bandingkan pula perekonomian (baca:tergambarkan lewat gaya hidup itu) dari negara yang perkembangan teknologi cepat, dengan negara yang perkembangan teknologi lambat..terlihat bahwa teknologi benar2 mempengaruhi tingkat perekonomian..teknologi benar2 penting..teknologi mempengaruhi perekonomian, dan perekonomian mempengaruhi teknologi..sebuah siklus..


2.Sayangnya, ada perbedaan kemudahan memperoleh akses teknologi.. Hal ini selanjutnya berdampak pada perekonomian, sesuai dengan apa yang tercantum dalam point pertama, karena baik perekonomian dan teknologi saling berkaitan.. jurang perbedaan antara kaya dan miskin yang semula lebar, ketika teknologi semakin maju, akan semakin melebarkan jarak di antara mereka(dan teknologi juga berpengaruh pada tingkat pendidikan juga!)..karena kecepatan perubahan teknologi jauh di atas kecepatan pemerataan akses teknologi..akibatnya, boleh dikata kemajuan teknologi juga membawa dampak kepada kemiskinan.. di sini kapitalisme telah menunjukkan cengkramannya di berbagai bidang!!

3.Perhatikan pula produsen2 barang2 berteknologi canggih. dukungan dana melimpah, lalu tenaga ahli yang ditawari insentif mnarik, dan kecenderungan awal ketika produk baru diluncurkan dilabeli harga mahal, mengakibatkan mereka semakin kaya..Produsen yang padat modal ini juga secara tidak langsung menghancurkan perekonomian usaha kecil..dan juga merusak perekonomian negara2 yang tingkat teknologi belum berkembang..dan dalam jangka panjang, akan menjadi sebuah monopoli..

3 poin di atas adalah pandangan singkat saja..untuk sekedar mengetahui, bahwa tak selamanya teknologi berdampak positif.. teknologi juga menghadirkan sebuah seleksi alam.. dari segi lingkungan, teknologi yang tidak terjaga akan mengakibatkan kerusakan alam..dan dari segi sosial ekonomi, telah saya jelaskan di atas..

sebenarnya ada satu poin lagi yang ingin saya tambahkan..

yaitu:
4. (secara khusus Indonesia) Tanpa kita sadari, majunya teknologi juga mengakibatkan semakin terkikisnya budaya asli suatu daerah. Karena pola pikir dari banyak generasi penerus yang merasa 'katro' jika melestarikan budaya bangsa, ditambah dengan informasi dari luar mengakibatkan mereka ingin terlihat 'barat', maka semakin terkikislah budaya kita.. Dan ingat, budaya merupakan identitas suatu bangsa.. maka, teknologi ini, jika tidak kita antisipasi dapat menghancurkan Indonesia!!

APAKAH TEKNOLOGI MERUPAKAN BENTUK IMPERIALISME MODERN???

Salam..
(PS: Saya tidak mempermasalahkan kemajuan teknologi.Saya justru sangat menikmati hal ini semua, sesuai tujuan awal demi efisiensi dan efektivitas.Maksud saya adalah bagaimana cara mendistribusikan kemajuan teknologi ini dengan baik. Dan bagaimana menjaga pengembangan teknologi itu agar tidak 'kebablasan', seperti yang terjadi pada pengendalian teknologi demi kelestarian alam)