berdasarkan teori roll off yang dijelaskan oleh greg mankiw, maka sebenarnya orang-orang yang golput adalah orang-orang yang cenderung tidak berpendidikan, ato kurang mengetahui visi-misi, kebijakan unggulan dari para kandidat..justru yang memilih adalah orang-orang yang berpendidikan lebih tinggi..
tapi, jika kita lihat di indonesia, justru kenyataannya orang-orang yang berpendidikan lebih tinggi justru lebih memilih golput daripada orang yang berpendidikan lebih rendah (maap, ga ada data di sini..tapi kita bisa ambil contoh kasar, bahwa tukang becak lebih besar kemungkinan memilih daripada aktivis mahasiswa bukan?)..
apa di sini artinya, orang yang berpendidikan rendah di Indonesia 'lebih pintar berdemokrasi' daripada orang yang berpendidikan rendah di Amerika, sehingga memutuskan menggunakan hak pilihnya? atau orang yang berpendidikan tinggi di Indonesia 'lebih kritis', hingga tidak mau menggunakan hak pilihnya, karena tidak merasa terwakili oleh calon yang ada??
apapun itu, yang jelas mungkin politik serangan fajar, janji populer seperti sekolah gratis dan kampanye dangdut di negara kita lebih ampuh dalam merangkul pemilih, daripada pandangan calon mengenai perekonomian nasional..entah karena kita lebih pandai berpolitik, sehingga bisa merumuskan 'strategi yang tepat' atau, karena begitu banyaknya warga indonesia yang 'kurang paham' mengenai dunia politik, sehingga gampang ditipu..
jika yang kedua, maka tanggung jawab kita bersama untuk lebih mencerdaskan bangsa mengenai pemilu (yang berarti dua: justru semakin selektif dalam melakukan pencoblosan - seperti di amerika - atau malah golput seperti di Indonesia)
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)

1 komentar:
tapi ya, kalo menurut gw sigh, yang namanya golput itu bagian dari pengambilan sampel yang memang jangan dipaksakan harus milih yang ini atau itu. tujuannya pemilu kan ngambil sampel, atau bahkan ngambil populasi mana yang paling merepresentasikan kemauan rakyat.
contoh dari golput yang dipaksakan untuk tidak golput misalnya waktu pemilihan ketua BEM kemaren, jadi tuh karena ada insentif recheese, banyak cewe2 yang sebenernya ga tau siapa calon2nya, tapi karena mau recheese terpaksa nyoblos, akhirnya apa? mereka nyoblos yang ganteng menurut mereka..
lah kalau begini kan jadinya bias dong? maka pemilu tidak merepresentasikan siapa yang sebetulnya paling kompeten untuk jadi ketua BEM.
misalkan aja, yang seharusnya golput ada 200 orang, smeentara beda selisihnya yang seharusnya kalah jadi menang gara2 yang golput itu jadi milih dia, bukan karena pemilih tau siapa dan apa kompetensi calonnya, melainkan hanya karena dia ganteng.. ahhaha
makanya, jangan lagi deh pemilu pake recheese2an..
golput adalah suatu suara juga, dan jangan sampe ngerusak/ membiaskan hasil dari orang yang bener2 milih.
Poskan Komentar