Beberapa waktu yang lalu, ramai dibicarakan adalah krisis pangan yang menimpa indonesia (termasuk dunia)..apalagi krisis energi yang juga menimpa dunia internasional, ikut memperparah buruknya kondisi pangan ini..mungkin skrang permasalah pangan ini kurang menajdi tema yang seksi lagi, mengingat ada tema lain yang lebih menarik (baca:krisis keuangan)..namun, benarkah sektor pangan ini sudah bisa kita anggap aman?
dengan tidak adanya sesuatu yang memanas dari sektor ekonomi pertanian, memang bukan berarti bahwa sektor ini telah aman..perlu dicatat, bahwa rigidnya harga pangan dunia terhadap harga minyak bisa dianggap bahwa sektor ini sangat rawan (mengapa bisa rawan, karena harga minyak sendiri sangat fluktuatif, rentan terhadap pengaruh keuangan global yang saat ini notabene sedang memburuk)..
satu sebab ini saja bisa kita anggap bahwa sektor pangan masih belum sepenuhnya aman
sebab kedua yang perlu diperhatikan (dan menjadi pokok pikiran penulis dalam tulisan ini) adalah mengenai diversifikasi pangan..
sebelum membahas mengenai diversifikasi pangan, mari kita tinjau dulu sektor pertanian Indonesia
sudah menjadi rahasia umum, bahwa pertanian kita dewasa ini cenderung dianaktirikan..betapa tidak, ketika pertanian kita mencapai puncaknya di era 80an (swasembada beras), perlahan tapi pasti basic kita sebagai negara agraris kita tinggalkan, dan mencoba menjadi negara industri pendukung agraris..kenyataannya, kita gagal menjadi industri, apalagi industri pendukung agraris..produk2 pertanian kita pun sering kalah bersaing di pasar global..tidak hanya itu, untuk menutup jumlah konsumsi dalam negeri saja tidak cukup..kita lebih banyak impor..
dan, produk yang penulis uraikan di sini (agak terfokus pada) beras (sekaligus mengaitkannya dengan diversifikasi)
selama ini telah menjadi dogma bagi bangsa indonesia, bahwa 'tidak makan nasi tidak kenyang'
sehingga, konsumsi beras sangat tinggi..padahal produksi dalam negeri sendiri cenderung rendah, kurang bisa menutup konsumsi dalam negeri..sehingga, kebijakan impor diambil..(tak heran harga beras cenderung mahal, karena supply dlam negeri yang kurang, serta adanya impor)..tingginya impor inilah yang mempengaruhi ketahanan pangan kita..
meninjau demand dan supply dari beras..tidak adanya supply dalam negeri yang meningkat (termasuk minimnya insentif dari pemerintah untuk meningkatkan produksi beras) serta teteap tingginya demand masyarakat, menjadikan beras ini mahal.. maka, tak heran ketika krisis pangan kemarin, harga beras melambung gila2an, dan ketahann pangan kita terancam..asumsikan pemerintah tak kunjung memberikan perhatian ke sektor pertanian, maka apa yang bisa kita lakukan?
satu2nya cara adalah merubah demand..dengan kata lain:diversifikasi pangan..
tak mudah merubah dogma 'tak makan nasi tak kenyang'..namun justru di sinilah kuncinya..
MenurutKepala Sub. Bagian Humas Badan Ketahanan Pangan - Departemen Pertanian, Ir Iping Zainal Arifin, ketersediaan energi kita berlebih, yaitu 2966 kkal/kap/hari, sedangkan konsumsinya 2200 kkal/kap/hari. Demikian juga dengan ketersediaan protein 75,71 gr/kap/hari sementara konsumsinya 56,6 gr/kap/hari.. dan apa yang menyebabkan terjadinya krisis pangan?
jawabannya satu: pangan disimbolkan dengan beras.." Kebijakan pangan yang terfokus pada beras, di satu sisi, mengakibatkan produksi beras meningkat, di sisi lain masyarakat tertentu yang tadinya tidak memakan beras terdorong mengkonsumsi beras karena mudah mendapatkannya, sehingga mendorong masyarakat yang pada awalnya secara tradisional tidak mengkonsumsi beras menjadi mengkonsumsi beras,"Prof. Dr. Ir. Benyamin Lakitan, M.Sc, - Pakar Pangan Ristek, Sesmen Ristek (dikutip dari situs ristek
maka, semakin jelas bahwa memang terlalu 'dominannya' beras ini memberikan tekanan terhadap perekonomian dan ketahanan pangan kita..
maka, sekali lagi:diversifikasi ato penganekaragaman pangan..
hanya saja, penganekaragaman yang terjadi selama ini justru memberi efek lain, karena adanya salah kaprah..tidak adaya beras (atau nasi) diganti dengan: mie, dan roti..akibatnya:memberi tekanan baru terhadap ekonomi, karena kita menjadi begitu banyak mengkonsumsi terigu (pada 2007 menyentuh angka 4,5 juta ton), yang mengakibatkan kita harus impor (yang berarti ketergantungan kita tinggi: ketahanan pangan rawan)
inilah yang patut dicermati..ambiguitas beras..satu sisi:beras terlihat begitu 'eksklusif' (bagi rakyat daerah)..ditambah anggapan 'tidak makan nasi tidak kenyang', mengakibatkan konsumsi mereka begitu tinggi..akibatnya kosnumsi sagu, jagung, umbi2an (yang bisa dikelola sebagai sumber karbohidrat dan protein lain, yang notabene juga bisa digarap demi menjaga ketahanan pangan) terabaikan..sementara beras sendiri juga terlihat begitu murah, dan tidak elite (khususnya bagi kaum kaya) yang mengakibatkan tingginya konsumsi terigu(ditambah tetap tingginya konsumsi beras)..sebuah fakta yang ironik bukan?
mengapa sumber daya sendiri(macam sagu, umbi2an, dll) tidak dikonsumsi(padahl relatif lebih ekonomis dari sisi produksi), padahal tenaga ada? sebuah pr besar jika ingin menjaga ketahanan pangan..tidak lagi berkaitan dengan teknis, tapi nonteknis (yaitu faktor budaya, dan faktor 'gengsi')..
nb: sebuah notes kecil..butuh banyak masukan..tidak bermksud tau banyak, hanya sedikit gagasan
Selasa, 03 Maret 2009
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)

6 komentar:
Ada lagi satu lam, faktor psikologis, gw si gak mau kalo tiba2 disuruh ganti jd makan sagu...coz emang bukan subtitusi yg sempurna buat beras (preferensi gw)
Jadi pilih makan beras aja dah..kalo pun produksi domestik kurang ya..impor....susah amat...kan udah jaman free trade (Kalo gak bisa produksi beras yang cukup dan gak efisien, beli lah dari negara lain yang lebih murah)
bukan gitu om..kalo kita tetep pertahanin impor, kan ketahanan pangan kita terancam..apalagi kan bisa bikin harga beras mahal..makanya, perlu ada alternatif lain, jangan bergantung ama beras mulu..
andaikan sagu bisa dikemas jadi sangat menarik dan enak, apa lo mau konsumsi?teknik untuk pengolahan kan banyak, sarjana dari ipb banyak gt..
Ketahanan pangan? bergantung? duh kok gw agak gak sreg sm kata2 itu..
Sekarang gini...kalo lo suka beli beras diwarung deket rumah lo...apa itu namanya bergantung?
Apa lo harus nanem padi di pekarangan rumah lo biar gak bergantung sm warung itu sehingga ketahanan pangan lo meningkat?
Dan sebagai konsekuensinya lo jg harus meninggalkan pekerjaan.
(+ mampir jg donk ke blog gw..kekekek +)
hehe..maap om..abis baca ekonomi pertanian, jadi dicekoki kosakata macam gitu, dan pikiran liberalis dibelokkan dikit ke 'pancasilais'..hehe..
emang impor tu ga rugi..secara ekonomi, memang kita butuh dan kudu impor..tapi, alangkah bagusnya,jika ekspor itu juga kita tingkatkan..diversifikasi pangan tuh cuman satu contoh (ini kalo kita bicara ekonomi)
contoh riil tuh waktu kemaren krisis pangan om..angka impor kita tinggi, akibatnya waktu negara lain yang biasa kita impor, mengurangi produksi ekspor(bnuat menuhin kbutuhan dalam negeri), kita jadi kelimpungan..harga mahal (walopun emang sluruh dunia kayak gt, mungkin angkanya bisa dikurangi)
lagian om, analogi yang lo pake mnurut gw salah..karena ini suatu negara..mnurut gw, memang ada sektor2 pertanian tersendiri..jadi kita tidak perlu mengorbankan sektor lain. melainkan hanya mengembangkan (atau memaksimumkan) sektor tersebut..
biaya yang kita pake, diambil dari biaya yang dialokasikan untuk impor..(sori om, kalo ga berkenan..ini pendapat pribadi..monggo dikritik)
anyway, sipp2..gw tunggu posting lo brikutnya..tar gw maen ke sana..maen2 ke rumaheconomica.blogspot.com juga ya om..(oiya, ajarin nulis blog pake bahasa inggris donk..inggris gw kaco nih)
Juatru karena gw gak bisa bahasa inggris jadi nulis blog pake bahasa inggris buat latihan..biar dibaca orang ..biar dapet masukan...he..he...
Mampirlah udah ada tulisan baru...he..he..hapi
oke lam sekarang pancasilais..hahha
menurut gw lam baik kebijakan impor ato diversifikasi
mungkin ada baiknya menimbang ilmu internasional kita...ricardian model
gimana suatu negara memanfaatkan masing2 keunggulan mereka shg ada spesialisasi...
nah evaluasi lah indonesia cocok ngga ambil spesialisasi di bidang pangan ato lebih mengejar di sektor lain dan dgn kata laen melepas sedikit (tekanan) pada pertanian lewat impor
woii komen blog gw donkj!!!
Poskan Komentar